Selamat Datang di Website Resmi STPP Malang

Join Us Join Us Join Us Join Us Join Us Join Us Join Us
Join Us Join Us
Join Us Join Us
Waktu Saat Ini
Terjemahan
FWT Homepage Translator
Agenda
19 November 2017
M
S
S
R
K
J
S
29
30
31
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Link Terkait
Facebook Fans

Kuliah Bersama Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Infrastuktur

Tanggal : 07/21/2017, 18:58:33, dibaca 315 kali.

STPP Malang, Jumat (21/07/2017) Aula Sasana Giri Sabha Ir. Syamsuddin Abbas, mahasiswa tingkat dua dan tiga  (250 orang) serta Bapak/ Ibu Dosen mengikuti kuliah tamu bersama Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Infrastruktur Prof.Dr.Ir. Budi Indra Setiawan, M.Agr.

Pada kesempatan kali ini Prof. Budi meminta Dosen STPP Malang juga mengikuti kuliah umum ini supaya nantinya bisa ikut diskusi bersama. Ada dua acara dalam kegiatan ini, yang pertama kuliah umum penyajian materi tentang Analisis Iklim & Neraca Air, yang kedua praktikum dengan kegiatan  diskusi study kasus analisis keadaan iklim sekitar kampus.

Materi ini merupakan metodi baru yang melihat prilaku musim dan variasi musim yang pada saat ini tidak bisa diprediksi. Sedangkan pertanian sendiri sangat tergantung dengan kondisi iklim dan musim.

Didampingi wakil Ketua  bidang Administrasi Umum dan Kepegawaian, Dr. Ismulhadi, M. Si serta Ketua Program Studi Penyuluhan Pertanian dan Prodi Penyuluhan Peternakan, Dr. Tatang Suryadi, SP, MP dan Yudi Rustandi, SST, M.Si, Prof Budi memberikan penjelasan tentang cara menganalisa data klimatologi yang ada di lingkungan STPP Malang kemudian digunakan untuk menentukan musim yang ada di lingkungan kampus. Walaupun STPP Malang sudah memiliki alat Klimatologi, akan tetapi mahasiswa harus bisa menganalisa, membaca iklim dan musim sehingga dapat digunakan sebagai acuhan untuk berusaha tani komiditas yang sesuai.

“Jangan STPP Malang (mahasiswa) menggunakan ilmu kira-kira, informasi terkait klimatologi harus bisa diperoleh”, ujar Prof. Budi dihadapan mahasiswa. Sebagai "kopassus" ketahanan pangan menuju tercapainya lumbung pangan dunia 2045, sudah seharusnya mahasiswa memiliki nilai lebih dari petani konvensional. (YF)



Kembali ke Atas


Berita Lainnya :
 Silahkan Isi Komentar dari tulisan berita diatas
Nama
E-mail
Komentar

Kode Verifikasi
                

Komentar :


   Kembali ke Atas